#HaloPengagem: Grace Susetyo

Halo, Pengagem!

Halo Ageman! Tambah keren aja kreasi-kreasinya 🙂

 

Bisa perkenalkan diri ke para Pengagem lain yang sedang membaca?

Namaku Grace Susetyo, panggil saja Grace. Aku seorang penulis dan solo backpacker berlatar belakang jurnalistik, baru saja pulang ke Indonesia setelah dua tahun menimba ilmu di Selandia Baru. Dengan bekal studi itu aku bermaksud beralih profesi ke bidang pemberdayaan masyarakat adat. Buku travel perdanaku, Dongeng dari Nusa-Nusa Selatan, ditargetkan terbit 2017. Aku sedang menyiapkan perjalanan lintas Nusa Tenggara untuk mengumpulkan bahan untuk buku travel lanjutan bertema kebangkitan masyarakat adat masa kini.

 

Bagaimana Indonesia menginspirasimu?

Sebagai anak dari keluarga perantau multikultural yang tidak pernah sepenuhnya dianggap “asli sini” di manapun aku berada, sedari kecil hubunganku dengan Indonesia terbilang kompleks. Aku dibesarkan di keluarga yang cenderung menganggap ikatan adat istiadat sebagai penyebab susah maju, dan lebih mementingkan kompetensi bersaing di era globalisasi. Tetapi ketika aku merantau seorang diri di luar negeri pada usia remaja dan duapuluhan awal, aku bertemu dengan banyak orang yang menyadarkanku bahwa kekuatan mereka justru datang dari akar lokalnya.

Tahun 2006, aku pertama datang tinggal di Jakarta dan menjumpai anak-anak muda seusiaku yang bangga berkreasi kekinian dengan mengembangkan warisan Nusantara: batik dan wastra lainnya, cerita rakyat yang dibuat teater dan film, kolaborasi musik modern dengan tradisional, dan sebagainya. Pada saat itulah aku merasakan untuk pertama kalinya, “Nah, gue Indonesia yang model begini, nih!” setelah seumur hidup merasa tidak pernah masuk pengkotakan etnis atau daerah tertentu dalam pengertian tradisionalnya.

Di sinilah aku terinspirasi untuk turut menjadi bagian dari arus balik generasi muda yang bangga berbudaya Indonesia. Namun di sini jugalah aku menyadari, bahwa karya-karya yang paling kukagumi justru indah karena memancarkan warisan budaya asal-usul penciptanya. Padahal buat pribadi multikultural sepertiku, kembali kepada akar tidaklah sesederhana mengidentifikasi diri sebagai orang etnis A yang berasal dari daerah A juga. Ini menciptakan kegelisahan luar biasa dalam batinku, yang akhirnya kucoba menjawab dengan menanggalkan kartu pers, meninggalkan newsroom tempatku dulu bekerja, dan menghampiri nusa-nusa untuk mengenalnya dari dekat.

 

Apa yang akan kamu berikan untuk Indonesia, yang sudah menginspirasimu?

Selama ini aku sering merasa, “Aku hanya seorang penulis. Penulis bisa apa, sih?” Tapi aku berusaha menggunakan kemampuan menulisku untuk menyuarakan berbagai masalah, gagasan, dan kebanggaan yang aku pedulikan. Sejak awal memilih profesi jurnalisme, cita-citaku adalah membuka mata pembacaku untuk melihat bahwa masih banyak hal indah yang dapat kita banggakan sebagai orang Indonesia meskipun negara kita penuh dengan ketidakadilan dan keterbatasan. Kita kuat apabila kita mengenal identitas kita yang sesungguhnya, dan apabila kita mengenali bahwa banyak hal indah dalam identitas itu yang bisa kita bangun jadi kekuatan kita.

Sekarang, dalam tahun keempatku menjelajah Nusantara, aku semakin menyadari bahwa tujuanku berangkat dan menulis ternyata bukanlah keindahan alam dan budaya Indonesia… melainkan spirit dari “orang-orang gila” yang berani punya visi melawan arus apatisme zaman ini, dan berjuang memulihkan ruang untuk mewariskan nilai-nilai luhur yang menjadikan kita manusia seutuhnya. Aku ingin tulisan-tulisanku menjadi alat yang memberdayakan perjuangan visioner-visioner Nusantara masa kini ini, yang tidak saja memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat akar rumput di negerinya, tetapi juga tidak membiarkan mereka lupa pada identitas mereka sesungguhnya: bangsa yang damai, kaya, terhormat, dan indah dalam segala hal. Kekayaan dan kehormatan yang tidak diukur dengan uang, harta, atau teknologi, melainkan dengan kearifan lintas generasi dan kedekatan dengan tanah.

Tentunya aku juga bercita-cita suatu saat nanti bisa mengambil bagian dalam perjuangan-perjuangan ini di luar dunia tulis menulis. Sesuatu yang berkontribusi langsung pada penghidupan banyak orang dan pewarisan kearifan lokal. Sepertinya saat ini masih masa-masanya menjelajah dan menguji berbagai gagasan yang nantinya berpotensi menuju ke sana.

 

Terima kasih sudah ngobrol-ngobrol dengan Ageman. Nah, bicara soal style. Bagaimana kamu mendeskripsikan gayamu dalam berpakaian?

Kalau sedang di kota, aku senang baju-baju berpotongan klasik dan feminin. Aku suka blus-blus polos berwarna cool atau netral, dikombinasikan dengan rok A-line, pinsil, atau ruffle, dan aksesoris simpel seperti giwang dan gelang. Lalu padankan look ini dengan item berbahan wastra Nusantara: bolero batik, syal songket, rok tenun ikat. Look seperti ini membuatku merasa “gue banget:” anggun dan kekinian, tapi bangga menyandang warisan Nusantara yang berkarakter.

Sukses terus, Grace. Sekarang, Ageman mau tantang kamu untuk cobain Sinta Outer dengan tiga gaya berbeda yang kamu banget!

Asyik! Sinta yang berwarna coklat muda-coklat tua ini lumayan beda dengan isi wardrobe-ku pada umumnya. Aku mencoba memadankan dengan classic little black dress untuk tampilan profesional, dan dua tampilan smart casual.



Comments are closed.